Ngawi – Kafe Kampoengsmuda
Selepas menikmati keindahan alam selondo dan keindahan kebersamaan bersama teman – teman tercinta, Alun – alun Ngawi, tujuan utama perjalanan kali ini. Dengan segenap rasa ingin tahu kondisi situasi Ngawi saat ini, terutama alun – alunnya, ada apa sich kalau di Agustusan gini, masih sama gak yach dengan beberapa tahun yang lalu?
Tak kalah ramai dengan kota lain, Ngawi menyuguhkan pasar malam agustusan (kalau di kota lain mungkin semacam bazaar). Banyak hal , barang, permainan, dan berbagai hiburan kita temui di Alun – alun Ngawi ini. Kebetulan memang Ngawi adalah salah satu kota yang konsumtif untuk masalah hiburan, orang – orang udiknya sangat haus akan hiburan, haus akan seuatu yang heboh, dari sisi pemudanya juga suka hingar bingar malam yang diliputi dengan gemerlap lampu dan musik – musik. Itulah Ngawiku, yang semakin hari semakin ramai dengan segala aspek nya.
Cafe Kampoengsmuda, adalah salah satu yang memberikan keramaian bagi warga Ngawi, ide kreatid Dodi cs yang menyuguhkan pelayanan jasa pembuatan PIN dan gantungan kunci yang cepat menarik minat warga Ngawi terutama anak – anak dan remaja. Banyak pengunjung yang mampir di stand kecil yang juga menyuguhkan berbagai minuman dan Gado – gado ini. Satu hal yang memang sangat langka dan bahkan tidak ada di Ngawi sebelumnya tentang pembuatan PIN langsung jadi ini. Kontan banyak sekali warga Ngawi yang tertarik untuk bisa memilikinya, selain pembuatannya yang tidak terlalu lama (bisa ditungguin) juga bisa design dengan foto / kata – kata , sesuai dengan permintaan pemesan, asyik kan? Sayangnya design yang aku berikan tidak jadi terselesaikan, karena tak ada waktu lagi ..
Hiburan rakyat, tentunya menyedot begitu banyak warga untuk menikmatinya, membawa keluarga untuk berkunjung, atau sekedar jalan – jalan melepas kepenatan di depan Pendopo Kabupaten Ngawi ini. Salah satu hiburan dengan tenaga otot manusia yang ada di sini adalah “Ombak Banyu”, sudah pada kenal dan tahu kan? mekanisme gerak putar dengan berpusat pada satu poros yang akan mempelantingkan rangka kayu ber-design melingkar ini ke arah putarannya dan mengayun seperti ombak. Peminatnya dari anak kecil, remaja, dan orangtua. Sungguh ramai jika barang ini sudah berputar dengan kencang, akan banyak jeritan yang histeris bagi orang yang takut akan ketinggian dan putaran yang membuat kepala pusing.
Aku adalah salah satu peminat barang mainan ini. Hm….selain mengasyikkan juga bisa bebas berteriak karena gak akan ada orang yang melarang untuk berteriak di sini. 17 Agustus Malam, bersama tamu dari Riau yang baru pertama menikmati permainan ini. 7 Menit – 10 menit kita digoyangkan di udara, pusing sich kalau yang belum pernah merasakannya, tapi asyik dech. Mau coba? Cari aja di beberapa Pasar Malam di kota manapun, biasanya ada kok.
18 Agustus 2008, hari yang cukup panjang dengan situasi Ngawi yang memang panas hari itu. Setelah silaturrohmi ke Bapak Ibunya Nana, kebetulan memang sebelumnya sudah janjian mau mampir kalau pas ada di Ngawi. Cerita kondisiku, setelah bertemu nana dengan segala hal yang ada disana, dulu sich aku juga sering main ke rumah yang lokasinya tak jauh dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ngawi ini. Maen bareng sama Fuad, Hafidz, Eko, Budi, Mbah Madh, dll , semua temen – temen pramuka. Tak banyak perubahan di rumah itu, yang berubah adakah susananya, dulu masih ada nana , mbak retna yang tinggal menemani dua orang usia lanjut itu. Namun sekarang tinggal mereka berdua yang menikmati masa tua dengan berbagai kesibukan masing masing.
Pak Harun, bapaknya nana, kesibukan tiap harinya saat ini mengumpulkan batu – batuan yang unik. Ternyata memang Bapak ini sungguh sangat suka mengumpulkan batu – batuan. Dari masa mudanya hingga sekarang ini, kebetulan beliau memang sudah purna tugas dari PNSnya, jadi punya banyak waktu senggang untuk “nambang” batu di “sebrang kali.” Bagus – bagus juga hasil tambangnya, ada yang digunakan sebagai batu hias di halaman rumah, ada juga yang dijadikan batu “akik” termasuk salah satunya diberikan padaku (sepuhannya dari kalimantan ; kota martapura). Sang Ibu masih ngajar (belum pensiun), selepas masak untuk suami tercinta beliau berangkat ngajar. Kebetulan hari itu adalah hari libur, sang ibu di rumah namun sang Bapak sudah dinas tugas di “s$ebrang kali.”









